Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi (judicial review) Pasal 202 ayat (1) UU No 10/2008 tentang Pemilu Legislatif. Pasal itu adalah dasar hukum Parliamentary Threshold atau ambang batas perolehan kursi di DPR.
Penolakan terhadap uji materi dimohonkan 11 partai ini jujur saja membuat gue terhenyak. Karena kalau membaca permohonannya, gue sempat berpikir kalau uji materil ini akan diterima. Semua dalil yang diutarakan sangatlah rasional. Karena, bagaimana mungkin seorang caleg yang seharusnya dapat kursi di DPR jadi tidak dapat kursi gara-gara aturan ini.
Gue menilai, putusan Mahkamah sangat bertentangan dengan putusan sebelumnya soal suara terbanyak. Di situ jelas-jelas, Mahkamah menunjukan kalau suara rakyat adalah paling penting. Sementara di putusan ini, Mahkamah jelas menunjukan ketidakberpihakannya pada rakyat
Mahkamah beralasan aturan ini untuk memperkuat sistem presidensial dan penyederhanaan partai. Gue enggak habis pikir karena, apa hubungannya semua itu dengan suara rakyat yang hilang? Persoalan dalam permohonan ini kan sudah jelas, bahwa ada suara rakyat yang dihanguskan. Bukan soal apakah partai2 itu bisa ikut pemilu lagi.
Di sisi lain, dalam putusan itu Mahkamah juga keliatan tidak konsisten dengan ketika menilai pembuat UU tidak konsisten dengan kebijakannya terkait pemilihan umum. Mahkamah menilai kebijakan pemilu terkesan selalu bereksperimen, tanpa desain jelas tentang apa yang dimaksud sistem multipartai sederhana yang hendak diciptakan. Akibatnya, setiap menjelang pemilu harus dibuat UU baru, baik UU Parpol, UU Pemilu, maupun UU Susduk MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
Bagaimana mungkin mereka yang menganggap aturan ini sebagai kebijakan yang tidak konsisten dan tanpa desain yang jelas justru diloloskan dan dinyatakan mengikat secara hukum.
Gue sepakat banget sama Maruarar Siahaan dan Akil Mochtar, dua hakim konstitusi yang menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion). Kebijakan PT jelas tidak menganut prinsip kedaulatan rakyat yang secara gamblang dijamin oleh konstitusi negeri ini.
Kalau melihat putusan MK ini, gue jadi pesimis sama wajah demokrasi menjelang Pemilihan Umum 2009. Bisa2 semua uji materil UU terkait Pemilu ditolak semua sama MK. Mengutip si Patra Zen, "Ini bahaya kalau MK diisi bukan oleh orang2 yang berjiwa negarawan."
nana
Jumat, Februari 13, 2009
Ketika Mereka Tidak Lagi Percaya
Kepercayaan itu tidak bisa dipaksakan,tapi dimenangkan. Kepercayaan itu harus dipelihara. Makanya, jangan sampai salah. Karena itu berarti melahirkan ketidakpercayaan.
Itu diucapkan sesorang kepada gue beberapa tahun lalu. Gue percaya dalam sebuah hubungan apapun bentuknya, kepercayaan adalah yang paling penting.
Tapi, memenangkan kepercayaan bukan perkara yang mudah. Ada waktu yang harus membuktikan jika gue tidak berbohong, tidak membocorkan rahasia, tidak melakukan kesalahan. Semua proses itu yang akan membuktikan bahwa gue bisa dipercaya.
Karena proses yang melahirkan kepercayaan itu, kemudian gue memilih bank untuk menyimpan uang gue.
Karena percaya, gue memilih siapa pemimpin gue.
Karena percaya, gue menceritakan semua rahasia hidup gue ke teman-teman tercinta.
Karena percaya, gue hanya memilih tiga brand ketika akan naik taksi.
Karena percaya, orangtua gue tidak pernah melarang gue melakukan apapun-yang-gue-suka.
Namun, setelah kepercayaan dimenangkan tentu saja kepercayaan harus dipertahankan. Atau, bahasa seseorang itu, "Dipelihara, Na." Itu yang ternyata jauuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh lebih sulit. Karena gue harus memastikan dan mengupayakan semua berjalan tanpacela. Gue harus lebih hati-hati, lebih cermat, dan lebih teliti. Guetidakbolehsalahterusterusan.
Karena kita gue membuat kesalahan akan membuat kepercayaan itu buyar. Maka, gue tidak akan lagi dipercaya dan orang akan mudah berpaling.
Ketika gue tidak percaya pada bank, teman, dan taksi, maka gue akan memilih bank, teman dan taksi yang lain.
Ketika gue tidak lagi percaya sama si pemimpin, maka gue akan memilih untuk golput.
Ketika orangtua gue tidak lagi percaya dengan gue, maka dia akan mempertanyakan semua yang gue lakukan. Melarang gue dan menganggap remeh gue.
Itulah mengapa kepercayaan jadi sesuatu yang sangat berharga.
Karena itu, sangat menyakitkan ketika orang mulai mempertanyakan apakah gue benar. Ketika orang meragukan gue. Ketika ada orang yang memberi cap gue sebagai orang yang berpotensi membuat kesalahan lebih banyak dan lebih besar dibandingkan orang lain. Ketika orang meminta gue melakukan hal yang sama yang sudah gue lakukan sebelumnya hanya karena dia bingung dan tidak yakin sama gue.
Ketika gue tidak lagi dipercaya.
Sangat menyakitkan sampai gue berpikir untuk mengakhiri hubungan ini. Sangat menyakitkan sampai gue berpikir untuk berpaling. Sangat menyakitkan sampai membuat gue tidak mau berada di sini lebih lama lagi.
Sangat menyakitkan karena gue percaya dalam hubungan kepercayaan adalah hal yang paling penting dan gue sudah tidak lagi memenangkan kepercayaan itu. Gue tidak mau semua berakhir begini. Tapi,gue sudah patah hati. Jadi, apakah gue akan terus memaksa bertahan? Gue enggak tahu. Yang gue tahu, gue harus bersiap dan mengambil ancang2 untuk yang terburuk.......
salam!
nana
Itu diucapkan sesorang kepada gue beberapa tahun lalu. Gue percaya dalam sebuah hubungan apapun bentuknya, kepercayaan adalah yang paling penting.
Tapi, memenangkan kepercayaan bukan perkara yang mudah. Ada waktu yang harus membuktikan jika gue tidak berbohong, tidak membocorkan rahasia, tidak melakukan kesalahan. Semua proses itu yang akan membuktikan bahwa gue bisa dipercaya.
Karena proses yang melahirkan kepercayaan itu, kemudian gue memilih bank untuk menyimpan uang gue.
Karena percaya, gue memilih siapa pemimpin gue.
Karena percaya, gue menceritakan semua rahasia hidup gue ke teman-teman tercinta.
Karena percaya, gue hanya memilih tiga brand ketika akan naik taksi.
Karena percaya, orangtua gue tidak pernah melarang gue melakukan apapun-yang-gue-suka.
Namun, setelah kepercayaan dimenangkan tentu saja kepercayaan harus dipertahankan. Atau, bahasa seseorang itu, "Dipelihara, Na." Itu yang ternyata jauuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh lebih sulit. Karena gue harus memastikan dan mengupayakan semua berjalan tanpacela. Gue harus lebih hati-hati, lebih cermat, dan lebih teliti. Guetidakbolehsalahterusterusan.
Karena kita gue membuat kesalahan akan membuat kepercayaan itu buyar. Maka, gue tidak akan lagi dipercaya dan orang akan mudah berpaling.
Ketika gue tidak percaya pada bank, teman, dan taksi, maka gue akan memilih bank, teman dan taksi yang lain.
Ketika gue tidak lagi percaya sama si pemimpin, maka gue akan memilih untuk golput.
Ketika orangtua gue tidak lagi percaya dengan gue, maka dia akan mempertanyakan semua yang gue lakukan. Melarang gue dan menganggap remeh gue.
Itulah mengapa kepercayaan jadi sesuatu yang sangat berharga.
Karena itu, sangat menyakitkan ketika orang mulai mempertanyakan apakah gue benar. Ketika orang meragukan gue. Ketika ada orang yang memberi cap gue sebagai orang yang berpotensi membuat kesalahan lebih banyak dan lebih besar dibandingkan orang lain. Ketika orang meminta gue melakukan hal yang sama yang sudah gue lakukan sebelumnya hanya karena dia bingung dan tidak yakin sama gue.
Ketika gue tidak lagi dipercaya.
Sangat menyakitkan sampai gue berpikir untuk mengakhiri hubungan ini. Sangat menyakitkan sampai gue berpikir untuk berpaling. Sangat menyakitkan sampai membuat gue tidak mau berada di sini lebih lama lagi.
Sangat menyakitkan karena gue percaya dalam hubungan kepercayaan adalah hal yang paling penting dan gue sudah tidak lagi memenangkan kepercayaan itu. Gue tidak mau semua berakhir begini. Tapi,gue sudah patah hati. Jadi, apakah gue akan terus memaksa bertahan? Gue enggak tahu. Yang gue tahu, gue harus bersiap dan mengambil ancang2 untuk yang terburuk.......
salam!
nana
Jumat, November 07, 2008
Meleset
Sejak Kejaksaan mengumumkan eksekusi Amrozi akan dilakukan pada awal Nobember 2008. Alhasil, semua orang (yang paling sibuk adalah wartawan) menebak2 kapan waktu eksekusinya. Terlebih, Kejaksaan menolak kapan waktu persisnya.
Tapi, karena sumbernya juga enggak jelas, maka tebakannya pun meleset.
Pada akhir Oktober lalu, sebuah media menulis eksekusi akan dilakukan pada tanggal 1-3 November. Media online ini bertolak pada pernyataan petinggi Kejaksaan yang bilang begini, "Eksekusinya awal November. Bisa tanggal 1, bisa tanggal 2, bisa tanggal 3." Tapi, ya itu tebakannya pun salah. Jangankan meleset, jauh bener dari kenyataan.
Udah tahu salah, eh media online ini tetep ngotot. Besoknya, dituruninlah berita lagi yang berdasarkan tebakan. Amrozi Cs dieksekusi 7 November. Enggak jelas siapa sumbernya, tapi nih media yakin banget kalau tanggal itu adalah waktu yang dipilih sama Kejaksaan untuk menembak mati tiga terpidana itu. Biar meyakinkan, media ini membuat daftar 'dalih' kalau eksekusi tidak dilakukan pada tanggal 7 November.
Enggak mau kalah, sebuah media Australia (lagi2 berdasarkan sumber enggak jelas) menuliskan eksekusi dilakukan pada 1 November. Karena sumbernya enggak jelas, maka kebenarannya pun enggak jelas. Salah banget. Yang bener pada tanggal segitu, Amrozi Cs baru masuk sel isolasi.
Atau, seorang presenter TV yang aneh bin enggak banget. Setiap malam, dia muncul di TV dan menyatakan Amrozi Cs akan dieksekusi malam ini. Tentunya dengan alasan yang logis. Setiap malam begitu, berulang, sampai kita enggak percaya lagi.
Kasak-kusuk di Kejagung sendiri menyebutkan tanggal 4 malam atau bertepatan dengan Pilpres Amerika adalah waktu eksekusi. Alasannya, supaya beritanya kalah sama berita pemilihan itu.
Jadi, kontroversi ataupun pro kontra seputar eksekusi itu juga bisa teredam. Gue sendiri agak setuju sama info yang enggak jelas sumbernya. Dan lagi-lagi, enggak bener bin salah (untungnya belom kita publikasiin).
Tebak-tebakan itu berlanjut dan semakin kenceng aja lantaran pada Rabu (6/11) Kejaksaan sudah ke rumah keluarga terpidana. Baik itu ke Serang, maupun Lamongan. Setelah kunjungan itu, Keluarganya Amrozi sendiri sudah bersiap menerima jenazah. Artinya, waktu eksekusi sudah sangat dekat.
Bahkan, Kapolri sendiri secara tersirat udah bilang begini, "Sesuai dengan ketentuan, kejaksaan pada H-3 sudah memberitahu kepada pihak keluarga mengenai pelaksanaan eksekusi. Setelah itu eksekusi ya dilakukan."
Maka, temen2 di Mabes pun berpendapat eksekusi akan dilakukan Sabtu (8/11) dini hari. Pendapat ini semakin meyakinkan dengan kedatangan Kapuspenkum Kejagung, Jamdatun, Panglima TNI ke kantornya BHD pada Jumat (7/11). Pertemuan tertutup dan terkesan rahasia ini berlangsung dua jam. Tapi, lagi2 Kejaksaan dan Polisi menolak berkomentar soal pertemuan itu.
"Enggak ada pertemuan apa2. Sudah ntar malam tidur nyenyak aja," kata Kapuspen Kejagung.
"Enggak ada pertemuan dengan Kejaksaan. Yang ada cuma silaturahmi dengan TNI AD," kata Kadiv Mabes.
"Kita cuma silaturahmi dan enggak ada kejaksaan," kata TNI.
Tebakan eksekusi Sabtu (8/11) dini hari antara pukul 00.00 sampai 03.00 WIB pun meleset. "Berarti, eksekusinya Minggu (9/11) dini hari," kata seorang teman.
Mungkin juga. Tapi, seperti kata temen lainnya, "Sudahlah. Jangan tebak2an enggak jelas yang cuma bikin tidur enggak nyenyak. Tunggu aja eksekusinya beneran. Selesai ditembak, pasti diumumin sama Kejaksaan."
Tapi, karena sumbernya juga enggak jelas, maka tebakannya pun meleset.
Pada akhir Oktober lalu, sebuah media menulis eksekusi akan dilakukan pada tanggal 1-3 November. Media online ini bertolak pada pernyataan petinggi Kejaksaan yang bilang begini, "Eksekusinya awal November. Bisa tanggal 1, bisa tanggal 2, bisa tanggal 3." Tapi, ya itu tebakannya pun salah. Jangankan meleset, jauh bener dari kenyataan.
Udah tahu salah, eh media online ini tetep ngotot. Besoknya, dituruninlah berita lagi yang berdasarkan tebakan. Amrozi Cs dieksekusi 7 November. Enggak jelas siapa sumbernya, tapi nih media yakin banget kalau tanggal itu adalah waktu yang dipilih sama Kejaksaan untuk menembak mati tiga terpidana itu. Biar meyakinkan, media ini membuat daftar 'dalih' kalau eksekusi tidak dilakukan pada tanggal 7 November.
Enggak mau kalah, sebuah media Australia (lagi2 berdasarkan sumber enggak jelas) menuliskan eksekusi dilakukan pada 1 November. Karena sumbernya enggak jelas, maka kebenarannya pun enggak jelas. Salah banget. Yang bener pada tanggal segitu, Amrozi Cs baru masuk sel isolasi.
Atau, seorang presenter TV yang aneh bin enggak banget. Setiap malam, dia muncul di TV dan menyatakan Amrozi Cs akan dieksekusi malam ini. Tentunya dengan alasan yang logis. Setiap malam begitu, berulang, sampai kita enggak percaya lagi.
Kasak-kusuk di Kejagung sendiri menyebutkan tanggal 4 malam atau bertepatan dengan Pilpres Amerika adalah waktu eksekusi. Alasannya, supaya beritanya kalah sama berita pemilihan itu.
Jadi, kontroversi ataupun pro kontra seputar eksekusi itu juga bisa teredam. Gue sendiri agak setuju sama info yang enggak jelas sumbernya. Dan lagi-lagi, enggak bener bin salah (untungnya belom kita publikasiin).
Tebak-tebakan itu berlanjut dan semakin kenceng aja lantaran pada Rabu (6/11) Kejaksaan sudah ke rumah keluarga terpidana. Baik itu ke Serang, maupun Lamongan. Setelah kunjungan itu, Keluarganya Amrozi sendiri sudah bersiap menerima jenazah. Artinya, waktu eksekusi sudah sangat dekat.
Bahkan, Kapolri sendiri secara tersirat udah bilang begini, "Sesuai dengan ketentuan, kejaksaan pada H-3 sudah memberitahu kepada pihak keluarga mengenai pelaksanaan eksekusi. Setelah itu eksekusi ya dilakukan."
Maka, temen2 di Mabes pun berpendapat eksekusi akan dilakukan Sabtu (8/11) dini hari. Pendapat ini semakin meyakinkan dengan kedatangan Kapuspenkum Kejagung, Jamdatun, Panglima TNI ke kantornya BHD pada Jumat (7/11). Pertemuan tertutup dan terkesan rahasia ini berlangsung dua jam. Tapi, lagi2 Kejaksaan dan Polisi menolak berkomentar soal pertemuan itu.
"Enggak ada pertemuan apa2. Sudah ntar malam tidur nyenyak aja," kata Kapuspen Kejagung.
"Enggak ada pertemuan dengan Kejaksaan. Yang ada cuma silaturahmi dengan TNI AD," kata Kadiv Mabes.
"Kita cuma silaturahmi dan enggak ada kejaksaan," kata TNI.
Tebakan eksekusi Sabtu (8/11) dini hari antara pukul 00.00 sampai 03.00 WIB pun meleset. "Berarti, eksekusinya Minggu (9/11) dini hari," kata seorang teman.
Mungkin juga. Tapi, seperti kata temen lainnya, "Sudahlah. Jangan tebak2an enggak jelas yang cuma bikin tidur enggak nyenyak. Tunggu aja eksekusinya beneran. Selesai ditembak, pasti diumumin sama Kejaksaan."
Langgan:
Entri (Atom)
